Langsung ke konten utama

Postingan

Berani Bermimpi Kuliah ke LN?

Oleh: Dedy Hutajulu Minggu sore, tepatnya pukul 3 lewat 22 menit, sahabat saya datang ke rumah. Ia mengajak saya ke kampus yang hampir 6 bulan tak pernah lagi saya kunjungi semenjak diwisuda. Keasyikan mengajar di sekolah membuat saya lupa melihat kampus yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan memakan waktu cuma lima menit dari rumah. Jadi, karena temanya menyinggung soal beasiswa ke luar negeri, saya pun ikut. Hitung-hitung, dapat informasi bagaimana mencari beasiswa ke LN. Meski telat hampir setengah jam dan telah kehilangan beberapa sesi, namun demi ilmu, kami tetap berani masuk menceburkan diri ke dalam diskusi. Kami duduk manis mendengar kuliah umum yang disampaikan oleh dua pemateri yang masih belia sambil menikmati hembusan angin diselingi kicauan burung. Awalnya, saya tak yakin jika saya akan mendapat sesuatu yang baru dari seminar itu. Saya justru berasumsi bila seminar itu justru akan membosankan mengingat tampang kedua pemateri yang masih muda. Tap...

Mahasiswa: Kemendesakan dan Keseriusan

Oleh: Deddi Gunawan Hutajulu* “dia selalu menantang dunia dalam setiap langkahnya. dia satu-satunya burung yang merdeka dalam penjara virus…Kami semua hanyalah robot yang dikendalikan oleh profesor, mungkin dialah satu-satunya yang bukan robot”. (Dikutip dari mozaik film 3 idiots, produksi Vinod Chopra Films) Salut buat Sayfa Aulia Achidsti atas tulisannya di harian ini (kompas, 12/7). Opininya yang berjudul “Peran Mahasiswa Hari Ini” sungguh mengusik rasa kepemudaan saya untuk turut terlibat berkiprah. Dan rasa salut itu telah menggerakkan tangan saya menulis artikel ini. Tentu saja rasa salut itu dialaskan pada beberapa argumen. Pertama, mencermati latar belakang (back ground) sipenulis. Sulit rasanya menerima kenyataan jika seseorang mampu menulis di koran seraksasa kompas kalau bukan seorang profesor atau peneliti atau orang besar lainnya. Sayfa ternyata bukan diantara yang disebutkan. Ternyata ia hanya seorang mahasiswa. Mahasiswa kelasnya tidak jauh beda dengan mahasiswa l...

Pengganggu dan Sahabat

Oleh: Dedy Hutajulu Jika kita melihat padi menguning, kita cenderung melihatnya dari satu sisi, yaitu tentang keberhasilan para petani. Padahal di balik semua itu, petani harus berupaya dengan gigih agar panen berhasil. Setidaknya, para petani harus dibekali pengetahuan tentang serangga pengganggu dan serangga sahabat. Sejak mulai tampak merekah, padi-padi pun harus dijauhkan dari jangkaun serangga pengganggu. Jika tidak, serbuan serangga pengganggu bisa merusak bakal bulir, mengoyak daun-daun dan mengayak batang-batang padi. Pada akhirnya yang tinggal hanya lapung saja. Sedang serangga sahabat, seperti kupu-kupu perlu dipelihara untuk membantu proses serbuk sari. Jadi, tanpa pengetahuan yang memadai soal hama, serangga pengganggu dan serangga sahabat, bisa-bisa petani kewalahan dan panen bisa gagal. Dalam demokrasi kita juga begitu. Keberhasilan negara juga bisa gagal total karena ulah para penggangguorang (koruptor) itu. Panen ‘kesejahteraan’ yang diharap, menjadi gagal karen...

Pidato SBY dan Nasib Demokrat

Oleh: Dedy Hutajulu Menyikapi dinamika politik terkini yang menyoal krisis Partai Demokrat (PD), SBY selaku penasihat PD segera menggelar jumpa pers di Cikeas. Sebagai rakyat biasa, saya hanya bisa mencermatinya lewat menonton tivi. Selama mengikuti jalannya berita, bukannya mendapat pencerahan, perasaan tidak nyaman justru memenuhi kepala saya, memuncak hingga ke ubun-ubun. Namun, karena beritanya krusial, saya urungkan niat mengganti ke saluran lain. Perasaan tak nyaman itu saya coba urai. Pertama, ketika melihat Anas Urbaningrum selaku ketum PD dan Marzuki Ali yang kita tahu sebagai pejabat public berdiri mematung di belakang SBY yang sedang berpidato. Saya tak mengerti menagap mereka berdiri di sana. Merak tak ubahnya dua ajudan yang sedang mengawal inspektur upacara saat memerankan upacara bendera. Padahal, inikan acara jumpa pers bukan upacara bendera. Kejanggalan kedua, yang paling mencolok dari acara itu adalah bahwa pidato SBY gregetnya tidak terasa. Meski SBY menyampaik...

PSSI dan Masa Depan Pembinaan Usia Muda

Oleh: Dedy Hutajulu Menontonton acara kongres PSSI sabtu (9/7) menghangatkan ingatan saya pada semua kejadian yang belakangan menyeret PSSI ke ranah perbincangan publik. Mulai dari kisah pemakzulan Nurdin Halid dari kursi presiden PSSI sampai kongres yang selalu berakhir gagal. Gagal karena selain diwarnai perhelatan politik dan tarik-menarik kepentingan, bahkan nyaris selalu ricuh. Adegan demi adegan menandaskan bahwa perebutan kekuasaan masih mendominasi ketimbang niat memajukan bangsa lewat sepak bola. Daya tarik magnet kekuasaan yang menggiurkan telah menyeret Nurdin Halid terhisap arus utama pusaran politisasi sepak bola. Dan iapun terimbas haus kekuasaan yang mengakibatkannya merasa enggan melepaskan kekuasaannya. Mundur dari jabatan secara elegan terasa janggal. Tak hanya Nurdin Halid, di kancah politik serta pemerintahan menjadi pemandangan biasa bahwa mundur dari kekuasaan hanya dipandang sebagai sebuah aniaya. Tabu. Sehingga bila ada yang lain, yang berniat maju untuk ...

Tinjau Ulang Kebijakan Subsidi

07 Jun 2010 Media Indonesia Opini MENCABUT BBM subsidi bagi sepeda motor di tengah mahalnya ongkos angkutan umum dan tidak adanya transportasi altematif adalah kebijakan salah arah. Apalagi kita tahu bahwa sepeda motor adalah roda kehidupan masyarakat miskin. Maka, rencana pemerintah untuk melakukan pencabutan subsidi BBM untuk sepeda motor sungguh tidak adil. Hadirnya ketentuan baru itu dinilai tidak berpihak pada rakyat miskin. Meski baru sebatas wacana, sudah menuai kritik keras dari berbagai elemen masyarakat. Betapa tidak, kebijakan tersebut tentu akan berdampak psikologis bagi masyarakat lapisan menengah bawah. Khususnyamasyarakat ekonomi lemah. Sebab mereka akan berpikir keras untuk menghemat pengeluaran sementara pendapatantidaklah menentu bila subsidi BBM dicabut. Pada dasarnya subsidi diberikan kepada masyarakat miskin ketika negara melihat ada kesenjangan ekonomi yang cukup jauh. Rakyat miskin harus ditolong dan dicarikan jalan kelua...

Utamakan Keselamatan

24 May 2010 Media Indonesia Opini WACANA konversi gas kini menjadi isu menarik. Kabarnya pemerintah hendak menjadikan bangsa ini selangkah lebih maju. Pemerintah merencanakan secara terstruktur dan terorganisasi agar masyarakat perlahan-lahan bisa meninggalkan konsumsi minyak tanah, lalu menggantikannya dengan pemakaian LPG (konversi gas). Di tengah tingginya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran, rencana mengonversi gas konyol rasanya. Karena hampir separuh dari jumlah penduduk kita adalah masyarakat yang miskin, yang masih bergantung pada konsumsi BBM. Untuk sesuatu yang baru, seperti konversi gas, masyarakat masih tergolong hijau. Selain itu, harga gas dan cara pemakaiannya belum disosialisasikan secara jelas. Ditambah lagi belakangan ini kita menyaksikan banyaknya kasus kebakaran yang terjadi akibat pemakaian LPG. Tentu bukan gasnya yang bermasalah, melainkan si pemakainya yang mungkin kurang berhati-,hati. Tabung yang berisi gas LPG te...