Langsung ke konten utama

Postingan

Menjenguk Afrika dan Hongkong

ANTARA pemahaman agama dengan praktik hidup, kerap tidak sinkron. Selalu ada jurang yang pemisah. Itulah kesimpulan yang dipetik Deonal   Sinaga   saat  mengunjungi gereja-gereja anggota UEM di Afrika, yakni di Ruanda dan Tanzania. Deonal Sinaga saat mebawakan materi perjumpaan kreatif bagi parhalado di distrik HKBP Jalan Uskup Agung Medan, Belakang Kantor Gubsu "Saya melihat, pada umumnya di kedua negara ini, mereka sangat serius dengan kekristenan. Tapi di sisi lain saya menyaksikan realitas kemiskinan itu," cetusnya saat di wawancarai di kediamannya di Kompleks Gereja HKBP Cinta Damai, Medan Sunggal, tempo hari. Ruanda adalah negara pascagenosida tahun 90-an. Mereka satu-satunya negara di dunia ini yang menetapkan aturan larangan pemakaian plastik. Karena pemerintah dan masyarakat sadar bahwa plastik sumber polisi terbesar untuk tanah dan susah terurai. Jadi pengganti kresek belanja, mereka menggunakan kertas. Dari segi pendidikan, menurut   ...

Menikmati Mimpi Belajar di AS

Pdt Dr Deonal Sinaga Oleh Dedy Hutajulu BERKESEMPATAN  studi di Universitas Concordia, di Kota Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat telah membuka cakrawala berpikir  Deonal   Sinaga . Sosok yang selama di bangku sekolah tak pernah mencolok, rupanya punya mimpi-mimpi besar. Kesabarannya memeluk mimpi, telah membawanya melanglang buana hingga ke Negeri Paman Sam. Berbekal jejaring dan kejeliannya membangun relasi dengan banyak orang, telah membelokkan hidup  Deonal  hingga bertemu Dick Swee, seorang pensiunan tentara. Ketika  Deonal  dapat tugas belajar mematangkan keterampilan bahasa Inggrisnya ke Amerika Serikat, ia tinggal di rumah Dick Swee. Istri Dick bernama Joan Swee, seorang guru begitu ramah dan senang menerima  Deonal  karena berwatak jujur dan sederhana. “Mereka sudah saya anggap sebagai keluarga. Mereka sangat menginginkan agar saya tinggal di AS jika saya kelar studi. Dick Swee bilang, saya bisa me...

Kurang Sosialisasi

Seorang petugas penyelenggara pemilu membantu memasukkan kertas suara dari seorang ibu usai menyoblos di bilik suara di Keluraha Tegal Rejo Medan Perjuangan, rabu, 9 Desember 2015 / Foto oleh Dedy Hutajulu DUA ibu-ibu kebingungan mencari TPS 29 Kelurahan Tegal Rejo, Medan Perjuangan, Sumatera Utara. Mereka kian cemas karena hari makin siang. Mereka telah berputar-putar, berkeliling di seputaran kecamatan demi ikut menyoblos. Saking teriknya matahari menjerang kulit, dua ibu-ibu gendut itu kembali berhenti untuk menanyakan warga setempat dimana gerangan lokasi TPS 29. Melihat seorang lelaki berbaju jersey Ayam Kinantan, ibu-ibu tadi menghentikan laju sepeda motor. "Pak, mau tanya, dimana ya TPS 29?" Lelaki berbaju jersey PSMS itu kaget. Ia sendiri bukan warga setempat. "Kami mau menyoblos Pak, tapi kami gak dapat lokasi tepeesnya," kata ibu itu sembari cemas. Kedua ibu itu tak menyadari kalau yang ditanya justru salah stau kandidiat walikota Medan yang potony...

Tabu, Mengangkat Guru Honorer di Medan

Oleh Dedy Hutajulu MENYIKAPI pernyataan Plt Wali Kota Medan Randiman Tarigan tentang rencana mengangkat jadi pegawai negeri separuh dari 3.800 total guru honorer di kota Medan, pada 2015 ini, Akademisi Unimed Dr. Irsan Rangkuti, MPd dan Spesialis Tata Kelola Guru USAID PRIORITAS Rimbananto angkat bicara. "Itu konyol, namanya," ujar Irsan Rangkuti, saat diwawancarai di kantornya Jalan Sei Tenang, Medan, Selasa (1/12). Plt Walikota Medan Randiman Tarigan Padahal, kebutuhan guru (SD dan SMP Negeri) di kota Medan cuma 6.500 orang.  Sementara guru PNS yang ada sekarang sudah 6.370 orang. Jadi hanya butuh sekitar 30 guru lagi, itupun jika semuanya yang dibutuhkan harus pegawai negeri. Tapi sekarang ada guru honorer sebanyak 1.700-an (untuk tingkat SD dan SMP), sehingga mengakibatkan guru berlebih sebanyak 1.549 orang. Kalau ditambah guru tingkat SMA totalnya sekitar 3.800 guru honorer. Pada 2013 silam, USAID PRIORITAS sudah menghitung kelebihan guru (tingkat SD dan SMP) ...

Gak Bisa Bahasa Inggris, Enyah!

BILA orang sukses bicara, orang rela memasang telinga. Pandangan dan gagasannya di bidang gelutannya itu, terasa begitu kentara. Seakan-akan, ia adalah Romy Rafael yang menghipnotis dengan setiap kalimatnya. Kalimat-kalimat berupa asupan gizi ilham bagi para pemirsa yang haus cerita. Kalimat yang bernada biasa-biasa namun meresap, menyesap, masuk lebih dalam, ya, jauh lebih dalam hingga ke alam bawah sadar. Itulah yang dilakukan Junita Togatorop, alumnus Unimed yang sukses meraih beasiswa LPDP. Ia menyihir puluhan peserta talkshow bertajuk "bagaimana meraih beasiswa," yang digelar di Aula FE USU, Medan, Jumat, 22 Oktober 2015.   Juni satu-satunya dari Unimed di periode ini yang meraih beasiswa LPDP. Sedang dari Sumut hanya dua. Dia dan Mahyuni Harahap. Sedangkan se-Indonesia ada 150 orang. Angka yang terbilang amat kecil dalam lumbung pelajar Indonesia. Namun, orang-orang muda sepasti Junita dan Mahyuni masuk dalam bilangan manusia tangguh. Mereka telah mengalahkan di...

Kellie's Castle: Cinta Yang Tak Rampung

Saya berpoto di dekat Kellis's Castle di kota Ipoh, Negeri perak, Malaysia. BEREDAR selentingan tentang Kastil Kellie. Ada yang menyebutnya sebagai bukti cinta tak berujung. Ada juga bilang, saksi seorang warga sipil yang ingin mendongkrak status derajat sosialnya. Yang lain menuding, istana itu justru wujud kecongkakan Eropa di negeri Melaka. Dari beberapa selentingan itu, kisah asmara yang tak berujung adalah bagian paling menarik. Sepasang sejoli menggelar sesi pemotretan prewedding, di selasar sebuah kastil yang megah di Ipoh, Malaysia. Kastil itu berdiri di sebuah dataran yang agak tinggi. Dan, di sekelilingnya tumbuh rerumputan hijau. Sebuah sungai mengalir di halaman depan. Hawa panas begitu kentara memasuki tengah hari. Tapi orang-orang muda terus berdatangan seakan tiada bosan-bosannya. Menaiki kastil itu, ada beberapa orang berfoto di balkon, sebagian selfie di sejumlah bilik-biliknya. Sedikitnya ada 14 bilik dengan ruang pengudaraan dan pencahay...

Kisah Dibalik Mural

Bernice, Reporter A Radio asal Medan berfose di sebuah mural di kota Ipoh, Malaysia. Mural seorang bocah wanita yang berusaha meraih sangkar burung di dekat ambang jendela SEORANG gadis kecil menjinjit meraih sangkar burung. Tangannya kurang panjang untuk meraih sangkar itu. Di antara sebuah dinding bangunan tua di kota Ipoh, gadis kecil itu dikekalkan dalam lukisan mural. Bernice, seorang reporter radio dari Medan terpukau dengan lukisan tersebut. Ia segera berjongkok menyediakan punggungnya supaya si gadis kecil bisa menjangkau sangkar itu. Kami pun lekas memotret adegan tersebut. Di sudut lainnya, gambar-gambar air minum dalam bungkus plastik diikat dengan pipet dan digantung di dinding bangunan tua mewarnai jalanan. Mendekati sebuah restoran China, ada mural bergambar tiga lelaki sedang tos minum arak. Namun yang paling mengesankan adalah mural di sebuah bangunan China di dinding kiri, sebuah coretan yang menggambarkan dibukanya tambang biji timah. Lukisan ters...