Langsung ke konten utama

Mewaspadai Terorisme

Oleh : Dedy Hutajulu

Tepatlah nasihat ‘bang napi’ (yang mengemuka lewat siaran SERGAP di RCTI) mengingatkan kita hari-hari ini: Waspadalah…waspadalah!  Aksi terorisme sepertinya mulai bergeser, inilah kesimpulan kita untuk sementara (meski kebenarannya masih perlu dibuktikan). Perampokan Bank CIMB Niaga di jalan Aksara Medan, penangkapan sejumlah tersangka perampok yang diduga teroris, penembakan tiga orang polisi di Polsek Hamparan Perak, serta perampokan ATM BNI, Bank Nagari dan BRI di Padang Pariaman mengindikasikan aksi terorisme telah menjadikan Sumatera sebagai basis baru kegiatan terorisme.Mereka mulai berpindah dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera.

Mari kita cermati bberapa kejadian berikut. Bukan hanya di Sumut, di padang juga belakangan ini polisi sedang mengejar komplotan perampok yang dinilai sebagai jaringan teroris. Meski sudah berulang kali berita teroris mengemuka di sekeliling kita, namun setiap kali berita perampokan dan serangan teroris datang, setiap kali pula, selalu terlihat ketidaksiapan segera mencuat kepermukaan.

Serangan teroris kali ini perlu dihadapi dengan sikap waspada, karena pola pergerakan mereka selalu berubah-ubah, berinovasi, kreatif, berani dan sukar diprediksi Dan siapa pun (masyarakat) yang cukup mengenal tabiat orang lain yang menjadi pendatang (asing) di kampungnya, berpotensi memunculkan kecurigaan. Biasanya, orang asing yang tidak ada kepentingannya dengan kita, namun mau tinggal dilingkungan kita, meski mereka kelihatannya ckup bersaabat, patut untuk dicurigai. Jika ada yang aneh dalam aktivitas kesehariannya, seperti mengumpet di rumah,  perlu diperhatikan.

Kesiapan menghadapi teroris sebenarnya merupakan tanggung jawab kita semua. Maka perlu meningkatkan langkah preventif dari semua pihak. Kerjasama dari masyarakat amat diperlukan untuk mempersempit ruang gerak teroris dan perampok.  Pihak kepolisian akan sangat antusias dengan gerak progres masyarakat mewaspadai serangan teroris.  Kesiapan seperti ini, tak membutuhkan biaya besar. Tapi perhatian dan kesungguhan hati dari setiap masyarakat. Terbukti, kerjasama dan kepedulian masyarakat di desa dolok masigul membuahkan hasil yang menggembirakan.

Terorisme memang susah dimusnahkan, namun serangannya bisa dipatahkan, benih-benihnya bias dimandulkan. Dengan mencegah, kita bisa mengurangi jatuhnya korban, membangun kedekatan dan kesatuan yang utuh, inilah yang amat kita harapkan Aksi teror apapun alasannya tidak dapat kita terima, sebab bertentangan dengan hakikat kemanusiaan. Apapun motifnya (tentu akan kita carikan), terorisme harus kita perangi.

Perang terhadap terorisme tidak bisa dimenangkan hanya dengan mengandalkan perlengkapan senjata dan kekuatan aparat keamanan, apalagi dengan mengatasnamakan kekuatan agama.  Meski belum ada cara yang ampuh untuk memusnahkan teroris, setidaknya ada satu hal yang bisa kita lakukan, yang mungkin bisa mewaspadai serangan teroris, yaitu membangun keadilan.

Kekuatan terbesar bangsa ini tak lain adalah ketika rakyatnya sejahtera, keadilan milik segala umur. Apabila hal itu terwujud, setidaknya, ruang kepung bagi teroris semakin luas sementara ruang gerak teroris semakin sempit.  Bila rakyat sudah peduli sesama, siap berjuang bagi tanah air, bukankah kekuatan besar ini amat ditakuti teroris, bahkan siapa saja. Kepedulian yang tinggi kepada bangsa ini tentulah lahir, jika Negara berhasil mewujudkan kesejahteran rakyat.

Sebaliknya, bila negara abai dengan nasib rakyatnya, kemiskinan masih tinggi, pengangguran kian melebar, maka jangan salah, jika perampokan akan kian marak dan terorisme semakin leluasa bergerak. Harus disadari, para teroris selalu memanfaatkan ruang sekalipun. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam kultur masyarakat yang akan menjadi ‘habitat’ barunya apabila teroris sudah menyatu dengan masyarakat, amat susah untuk menganalisa, apalagi memisahkannya, sehingga pemerintah memerlukan dukungan public.

Perencanaan mengepung teroris harus dilakukan seiring dengan informasi yang didapat dari masyarakat dan pengenalan kultur masyarakat Di sinilah peran masyarakat sangat diharapkan. Seperti diketahui, teroris kerap mengkader dari anak-anak remaja yang masih labil. Bahkan, beberapa gembong teroris kerap mengembangkan sayapnya dengan menikahi wanita dari lingkungan masyarakat dimana dia bersembunyi.

Kembali ke persoalan mendasar, pola teroris yang kini bergeser ke Sumatera harus menjadi bahan pemikiran kita. Apakah, teroris akan berkembang pesat di kota kota Di Sumatera ini? Apakah kepolisian kita akan mampu menekan lajunya? Kita tunggu saja.

Namun biar bagaimanapun, mari kita semua bekerjasama. Masyarakat belajar mengenali sesama. Penerimaan yang terbuka dari kepolisian dan kerelaan masyarakat memberi informasi kepada pihak keamanan penting untuk dikerjakan. Selain itu, masyarakat perlu mendidik anggota keluarganya lebih ketat dalam hal-hal yang manusiawi dan membenci tindakan-tindakan terror yang bertentangan dengan hakikat kemanusiaan. Ini saatnya, kita semu, masyarakat Sumatera, mari memerangi benih-benih terorisme. Karena kita semua menginginkan kedamaian, keamanan dan kenyamanan. Semoga, kita bisa mewujudkannya.

Waspadalah, waspadalah! (penulis pengurus Perkamen)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasibnya Si Anak Workaholic

Syawal Gultom /foto oleh Dedy Hutajulu Ia seorang pekerja keras. Nyaris tak kenal waktu. Baginya, ada sebuah kenikmatan bekerja jika bisa menampilkan karya terbaik. Karena itu, mengejar mutu adalah prinsip hidupnya. Dan prinsip itu, seperti sepasang sayap yang membawanya pada sekelabat sukses gemilang dalam karir akademik dan pergaulan hidupnya. *** LELAKI itu terus bekerja hingga tengah malam, sementara bosnya sudah tidur pulas di rumah. Sebagai seorang staf biasa, ia harus rela pulang larut malam karena pekerjaan belum kelar. Beberapa kali, Usman Pelly, Guru Besar Antropolog Unimed pernah menegurnya. “Hei, jangan terus-terusan kerja. Nanti kau jadi workaholic .” Bukan bermaksud tidak mengindahkan nasihat tersebut, tetapi Syawal telah kecanduan bekerja. “Justru bagi saya itu, sebuah kenikmatan bisa bekerja keras,” kata Syawal yang kala itu masih sebagai seorang suruhan bagi para pembantu rektor. Ya, tugasnya sekadar mengangkat tas atau disuruh mengetik dokumen. Namun...

Soal Kurang, Anak-anak Panik

Oleh: Dedy Hutajulu . Matahari tepat di atas kepala saat anak-anak berhampuran keluar gerbang sekolah usai menuntaskan Ujian Nasional (UN) hari kedua. Demi menghindari dehidrasi dan teriknya sang surya, Sadly Nugraha berteduh di warung minimalis yang cuma berjarak lima meter dari sekolahnya, di Jalan Tilak Medan, Selasa (16/4). Dengan mengenakan jaket merah darah, ia mojok di ujung warung pada sebuah bangku panjang bersama tiga rekannya. Hiruk-pikuk pembeli menghiasi warung. Dan Sadly tak hirau akan hal itu. Matanya memelototi coretan dalam kertas di depannya. Tangan kiri ditekuk ke meja. Tangan kanan memegang pulpen. Ia sedang membahas soal-soal prediksi UN. Sadly, hari itu sengaja datang ke sekolah bukan untuk ujian tetapi ingin melihat rekan-rekannya, anak kelas IPS yang sedang UN. Ia terpaksa meredam semangatnya untuk ujian lantaran pemerintah tiba-tiba mengundurkan jadwal ujian hingga 22 April mendatang, akibat kekurangan soal. Sadly menuturkan, ket...

SD Parulian Tunjukkan Cara Atasi Pemanasan Global

Sebanyak empat siswa SD Pelita Mutiara Parulian 5 Simalingkar memukau  peserta Seminar Literasi, melalui presentasinya, yang digelar di aula Yayasan Parulian, Medan Kota, Selasa (26/9). Mereka terampil mencari dan mengelola informasi tentang isu pemanasan jagat yang dikontekstualkan dalam pembelajaran IPA di kelas.  Dengan memahami persoalan dan dampak nyata pemanasan global, anak-anak ini meriset di internet dan menggunakan sejumlah referensi untuk mencari pemicu pemanasan tersebut. Kemudian dengan mengetahui akar masalahnya, mereka mencarikan solusi. Salah satunya, dengan menanam pohon. "Mencangkok salah satu cara mempercepat memperbanyak tanaman. Dengan mencangkok tanaman, kita bisa mencegah pemanasan global. Dan hasil mencangkok, secara ekonomi manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," kata Adelia Sinaga salah satu siswi SD yang presentasi itu. Presentasi Adelina selaras dengan laporan Badan Meteorologi Dunia yang menyebut suhu permukaan bumi terus memanas. Dibandingkan ...